Tampilkan postingan dengan label Buku Cerita Islami. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Buku Cerita Islami. Tampilkan semua postingan

Senin, 12 Desember 2011

Catatan Hati di Setiap Sujudku

Mengapa dia berharap kepada selain Aku ketika dirinya sedang berada dalam kesulitan?
Padahal sesungguhnya kesulitan itu berada di tangan-Ku dan hanya Aku yang dapat menyingkirkannya.
Mengapa dia berharap kepada selain Aku dengan mengetuk pintu-pintu lain padahal pintu-pintu itu tertutup?
Padahal, hanya pintu-Ku yang terbuka bagi siapa pun yang berdoa memohon pertolongan dari-Ku... (hadist qudsi)

Di setiap udara yang kau temukan
Di sana akan kau jumpai Allah
Yang senantiasa mendengar doamu...




Endorsment:

- I have to say ... that it is fantastic how Asma Nadia writes and touches the readers' feeling, it is not a common "gift"..[smile]. It reminds me of one of my favorite classic writers: Jane Austen (author of the famous "Pride and Prejudice"), who had always tried to write "from her heart" and showed the very high spirit of a well-educated young woman. (Dr. rer. nat. Kartika Senjarini)

- Membaca Catatan Hati di Setiap Sujudku seperti menyusuri lorong-lorong keajaiban-Nya. Membuat saya menangis dan bersujud lebih dalam (Ariesta Sabila, seorang istri)

- Inspirasi dan semangatnya sedikit mengingatkan saya akan buku La Tahzan yang fenomenal itu (Helvy Tiana Rosa)

Senin, 11 Oktober 2010

Slilit Sang Kiai

emha Ainun Nadjib,lahir di Jombang, Jawa Timur, pada tanggal 27 Mei 1953, sebagai anak keempat dari 15 bersaudara. Ia mengenyam pendidikan di Pondok Pesantren Modern Gontor dan meneruskan ke Universitas Gadjah Mada (hanya sebentar). Pada 1970 - 1975 hidup menggelandang di Malioboro, Yogya, ketika belajar sastra kepada guru yang dikaguminya, Umbu Landu Paranggi. Dan pernah menjadi redaktur harian Masa Kini (Yogyakarta), pemimpin Teater Dinasti (Yogyakarta), dan grup musik Kyai Kanjeng hingga kini. Ia mengikuti berbagai festival puisi antara lain di Belanda dan Jerman. Karyanya yang diterbitkan Gramedia adalah Trilogi Doa Mencabut Kutukan. 

Selasa, 28 September 2010

Dalam Mihrab Cinta



Sinopsis
Siang itu pesantren Al-furqon yang terletak di daerah Pagu, kediri, Jawa Timur Jeger. Pengurus bagian keamanan menyeret seorang santri yang diyakini mencuri. Beberapa orang santri terus menghajar santri berambut gondrong itu. Santri itu mengadu dan meminta ampun.

"Ampun, tolong jangan pukul saya. Saya tidak mencuri!" teriak seorang santri berkopiah hitam dengan wajah sangat geram.

"Ayo mengaku. Kalau tidak aku pecahkan kepalamu!" teriak seorang santri berkopiah hitam dengan wajah sangat geram.

"Sungguh bukan saya pelakunya." si rambut gondrong itu tetap tidak mau mengaku. Serta merta 2 bogem melayang ke wajahnya.

"Nih rasain pencuri!" teriak ketua bagian keamanan yang turut melayangkan pukulan. Si Rambut Gondrong mengaduh lalau pingsan. Menjelang Ashar, si Rambut gondrong siuman. Ia dikunci di gudang pesantren yang dijaga beberapa santri. Ke dua tangan dan kakinya terikat. air matanya meleleh. ia meratapi nasibnya. seluruh tubuhnya sakit. Ia merasa kematian berada di depan mata. di luar gudang para santri ramai berkumpul. mereka meneriakan kemarahan dan kegeraman.

"Maling jangan diberi ampun!"
"Hajar saja maling gondrong itu sampai mampus!"
"Wong maling kok ngaku-ngaku santri. ini kurang ajar. tidak bisa diampuni!"
ia menangis mendengar itu semua. 10 menit kemudian pintu gudang terbuka. ia sangat ketakutan.
tanpa ia sadari, ia kencing dicelana karena saking takutnya.
para santri yang didera kemarahan meluap hendak menerobos masuk. Tapi lurah pondok menahan mereka dengan sekuat tenaga. Pak Kiai, pengasuh pesantren masuk dengan wajah dingin.

Di Atas Sajadah Cinta


Di Atas Sajadah Cinta
"Ketika memamah Di Atas Sajadah Cinta, saya seperti membedah dongeng kehidupan yang sarat dengan makna. Membuat kita ingin terus berada Di Atas Sajadah Cinta."
-- Ali Muakhir, Penulis Nomik Olin dan Editor Penerbit dari Mizan

"Pada minggu-minggu pertama tinggal di Belanda, saya mengalami kehilangan yang sangat di tengah-tengah budaya masyarakat yang begitu duniawi. Bahkan azan pun yang sering terlupakan selama di lndonesia baru terasa sebagai sesuatu yang sangat berharga. Di saat-saat seperti ini tausyiah-tausyiah terasa urgen untuk menjaga spirit ruhani dan menumbuhkan kehidupan lslami. Dan hikmah serta cerita memegang bagian yang sangat besar dari tausyiah itu.
Dengan hikmah dan cerita hati mudah tersentuh. Maka kehadiran
kumpulan hikmah dalam buku ini sungguh menambah khazanah dakwah dan kesejukan hati. Apalagi cerita yang ditulis dalam buku ini bukan cerita yang beredar di dunia internet. Maka buku ini menjadi sesuatu yang perlu bagi mereka yang rindu kehidupan lslami."
-- Dr. Hadi Susanto, Pemerhati Sastra, Alumus Twente Universiteit, Belanda

"Sebuah usaha yang genial untuk menghimpunkan kisah-kisah yang bermuatan nilai Al-Quran dan As-Sunnah dalam bahasa fiksi, bahasa kehidupan sehari-hari, yang dengan itu orang tidak lagi merasa rumit belajar dan mengamalkan lslam. Demikianlah, Habiburrahman El Shirazy telah menghimpunnya untuk Anda dengan bahasa yang indah dan menyentuh hati dalam buku Di Atas Sajadah Cinta ini. Semoga kisah-kisah ini menggerakkan Anda menuju kebaikan selalu."
-- Izzatul Jannah, Novelis, Da'iyah dan Penggiat Forum Lingkar (FLP)

"Inilah kisah-kisah yang penuh dengan ibrah, makna yang dalam, diambil dari kisah teladan Nabi, para sahabat, para tabi'in dan mujahid-mujahidah lslam di masa lalu. Begitu membaca buku ini saya merasa seolah-olah terbetot, untuk kembali menekur dan menafakuri diri... Betapa banyak yang dapat diambil dari kumpulan kisah teladan ini. Sangat bermanfaat bagi para remaja kita..."
-- Pipiet Senja, Sastrawan dan Novelis Tanah Air

"Di Atas Sajadah Cinta, benar-benar kado terindah yang saya terima di hari pernikahan saya. Cerita-ceritanya sungguh menggugah nurani dan jiwa...Thank's a lot buat Kang Abik!"
-- Anif Sirsaeba, Adik kandung Habburahman El Shirazy
The Spirit of Life dan Penulis Buku Laris Berani Kaya Berani Takwa