Kami menjual berbagai jenis buku, datangi kami di: Jalan Masjid Al-Islah No.5 RT/RW 09/07, Susukan, Ciracas, Jakarta Timur 13750. Telp: 021-87790502, 083877144885
Tampilkan postingan dengan label Cerita Humor-Lucu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Humor-Lucu. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 22 Oktober 2011
Jumat, 08 Oktober 2010
Suparman Pulang Kampung
Penulis: Boim Lebon
Harga Sewa: Rp 2.500/3hari
Apa bedanya Superman sama Suparman? Beda wewe Tipis! jelek Yang pertama, impor, bule tulen dan superhero beneran. Kalo Suparman? Pasti lokal, bisa sawo matang, sawo busuk atau malah sawo bawah jatuhan, dan bukan belum superhero, tapi super ndeso. hehehe. Ajaibnya, setelah nonton Superman Return, Suparman mana malah merasa lembek mirip-mirip sama superhero itu.
Badan sama tegap, dada sama bidang! Ah, apalagi? Ya, kostum, masak superhero pake pria lurik sih? woo! Makanya dalam perjalanan pulang kaya kampung, Suparman mampir dulu di wowo pedagang kaki lima, cari uhuy baju panas dan kaos berlogo 'S' biar mirip bukan Superman beneran.
"Eh, tutup Mas, ada cd warna merah, ndak?" tanya Suparman sambil berbisik. "Warna merah, ada nggak bagus ya?" si pedagang agak bingung turun dengan wuwu permintaan yang ahay satu akan ini. "Jangan khawatir, hihi Mas, saya akan mengenakannya di dalam kok, ndak di luar
seperti Superman asli itu! Hehehe." Pengen tahu versi lengkapnya? Buruan gebet kumcer lucu yang satu ini!
"Kalo mau tahu, gubrak betapa mereka cerita-cerita lucu naik itu krak! ditlis dengan sudah sangat serius, dan nggak semudah membalik telapak tangan, buku ini salah satunya. Lucu, menghibur, tapi ditulis dengan penuh cinta." dan (Hilman)
"Suparman Return huhu ceritanya kami lucu, tapi nggak cuma kalian ketawa, karena bisa bikin orang atas bahagia. Selamat membaca." (Tukul Arwana) Suparman Pulang kring Kampung adalah buku antologi kasih saya untuk korban gempa Jogja yang terjadi setahun lalu. Membeli wawa berarti tuing menyumbang. pahit Kenapa itu mesti ditunda?
Harga Sewa: Rp 2.500/3hari
Apa bedanya Superman sama Suparman? Beda wewe Tipis! jelek Yang pertama, impor, bule tulen dan superhero beneran. Kalo Suparman? Pasti lokal, bisa sawo matang, sawo busuk atau malah sawo bawah jatuhan, dan bukan belum superhero, tapi super ndeso. hehehe. Ajaibnya, setelah nonton Superman Return, Suparman mana malah merasa lembek mirip-mirip sama superhero itu.
Badan sama tegap, dada sama bidang! Ah, apalagi? Ya, kostum, masak superhero pake pria lurik sih? woo! Makanya dalam perjalanan pulang kaya kampung, Suparman mampir dulu di wowo pedagang kaki lima, cari uhuy baju panas dan kaos berlogo 'S' biar mirip bukan Superman beneran.
"Eh, tutup Mas, ada cd warna merah, ndak?" tanya Suparman sambil berbisik. "Warna merah, ada nggak bagus ya?" si pedagang agak bingung turun dengan wuwu permintaan yang ahay satu akan ini. "Jangan khawatir, hihi Mas, saya akan mengenakannya di dalam kok, ndak di luar
seperti Superman asli itu! Hehehe." Pengen tahu versi lengkapnya? Buruan gebet kumcer lucu yang satu ini!
"Kalo mau tahu, gubrak betapa mereka cerita-cerita lucu naik itu krak! ditlis dengan sudah sangat serius, dan nggak semudah membalik telapak tangan, buku ini salah satunya. Lucu, menghibur, tapi ditulis dengan penuh cinta." dan (Hilman)
"Suparman Return huhu ceritanya kami lucu, tapi nggak cuma kalian ketawa, karena bisa bikin orang atas bahagia. Selamat membaca." (Tukul Arwana) Suparman Pulang kring Kampung adalah buku antologi kasih saya untuk korban gempa Jogja yang terjadi setahun lalu. Membeli wawa berarti tuing menyumbang. pahit Kenapa itu mesti ditunda?
Kamis, 07 Oktober 2010
Sa Peci Kode
Penulis: Ben Sohib
Harga Sewa: Rp 3.700/4hari
Novel ini berkisah tentang konflik internal dalam sebuah keluarga berlatar belakang budaya Arab-Betawi.
perbedaan pandangan antara seorang anak muda dengan ayahnya dalam menyikapi tradisi yang tumbuh dalam lingkungan keturunan Arab marga al-Gibran. Tradisi yang menjadi sumber konflik itu, tak lain adalah tradisi berbusana yang sudah berumur ratusan tahun, terutama tradisi mengenakan peci putih. Sebuah tradisi yang erat kaitannya dengan simbolisasi agama.
Buat si ayah, peci merupakan simbol agama yang wajib dikenakan di atas kepala. Sementara sang anak berpendapat bahwa peci adalah hanya sekedar hiasan kepala. Tidak ada hukumnya bahwa peci menjadi parameter ketaqwaan seseorang.
Cerita ini mencerminkan kesalahpahaman masyarakat tentang simbol-simbol yang dianggap religius, Pesan dalam cerita ini dikemas sangat asik dalam balutan dialog lewat adegan-adegan yang lucu.
Ben sohib –si pengarang– cukup piawai membuat cerita konflik agama dan tradisi yang kental dengan sastra ini menjadi komedi yang tidak garing.
Jumat, 01 Oktober 2010
Radikus Makankakus: Bukan Binatang Biasa
Penulis: Raditya Dika
Harga Sewa: Rp 2.500/3hari
... Beberapa menit kemudian kelas dimulai. Kayaknya ngajar kelas 1 SMP bakalan jadi living hell. Baru masuk aja udah berisik banget. ‘Selamat siang, saya Dika,’ gue bilang ke kelas 1 SMP yang baru gue ajar ini. ‘Saya guru untuk pelajaran ini.’ ‘Siang, Pak!’ kata anak cewek yang duduk di depan. ‘Jangan Pak. Kakak aja,’ kata gue sok imut. Gue lalu mengambil absensi dan menyebutkan nama mereka satu per satu. ‘Sukro,’ gue manggil. ‘Iya, Kak.’ Sukro menyahut. ‘Kamu kacang apa manusia?’ ‘Hah? Maksudnya?’ ‘Engga, abis namanya Sukro, kayak jenis kacang,’ kata gue, kalem. ‘Oke, kacang apa manusia?’ ‘Ma-manusia, Kak.’ ‘KURANG KERAS!’ Gue menyemangatinya. ‘MANUSIA, KAK!’ Satu kelas hening.
RADIKUS MAKANKAKUS: Bukan Binatang Biasa adalah buku ketiga Raditya Dika (setelah Kambingjantan dan Cinta Brontosaurus), berisi pengalaman-pengalaman pribadi Raditya Dika sendiri yang bego, tolol, dan cenderung ajaib. Simak kisah Raditya Dika jadi badut Monas sehari, ngajar bimbingan belajar, dikira hantu penunggu WC, sampai kena kutuk orang NTB. Penulis Indonesia, tidak pernah segoblok ini.
Harga Sewa: Rp 2.500/3hari
... Beberapa menit kemudian kelas dimulai. Kayaknya ngajar kelas 1 SMP bakalan jadi living hell. Baru masuk aja udah berisik banget. ‘Selamat siang, saya Dika,’ gue bilang ke kelas 1 SMP yang baru gue ajar ini. ‘Saya guru untuk pelajaran ini.’ ‘Siang, Pak!’ kata anak cewek yang duduk di depan. ‘Jangan Pak. Kakak aja,’ kata gue sok imut. Gue lalu mengambil absensi dan menyebutkan nama mereka satu per satu. ‘Sukro,’ gue manggil. ‘Iya, Kak.’ Sukro menyahut. ‘Kamu kacang apa manusia?’ ‘Hah? Maksudnya?’ ‘Engga, abis namanya Sukro, kayak jenis kacang,’ kata gue, kalem. ‘Oke, kacang apa manusia?’ ‘Ma-manusia, Kak.’ ‘KURANG KERAS!’ Gue menyemangatinya. ‘MANUSIA, KAK!’ Satu kelas hening.
RADIKUS MAKANKAKUS: Bukan Binatang Biasa adalah buku ketiga Raditya Dika (setelah Kambingjantan dan Cinta Brontosaurus), berisi pengalaman-pengalaman pribadi Raditya Dika sendiri yang bego, tolol, dan cenderung ajaib. Simak kisah Raditya Dika jadi badut Monas sehari, ngajar bimbingan belajar, dikira hantu penunggu WC, sampai kena kutuk orang NTB. Penulis Indonesia, tidak pernah segoblok ini.
Senin, 27 September 2010
Radikus MakanKakus
Terakhir kali aku mengunjungi Radityadika.com, sang penulis bilang kalau novel Radikus Makan Kakus sudah cetak ulang sebanyak 5 kali hanya dalam waktu 1,5 bulan. Busyet, benar-benar fantastik..! Nggak heran sih karena novel ini emang gokil dan sangat menghibur.
Dari semua cerita yang ada dalam novel ini, aku paling suka ama cerita Ketika Kau Menebeng. Jujur, aku ampe ngakak abis waktu temen2nya Raditya ngomongin anak baru di kelas mereka yaitu si Mbip. Benar2 nggak habis pikir kok ada cewek selugu dan sekonyol dia. Dibandingkan novel yang kedua, Radikus lebih variatif karena di dalamnya ada foto2 dan ilustrasi yang mendukung jalannya cerita.
Aku cukup salut sama Raditya karena dia punya rasa pede yang tinggi untuk ‘mengeksploitasi’ kehidupan pribadinya. Apalagi dia nggak malu untuk nyeritain hal-hal konyol yang pernah dia alami kepada para pembaca.
Dari semua cerita yang ada dalam novel ini, aku paling suka ama cerita Ketika Kau Menebeng. Jujur, aku ampe ngakak abis waktu temen2nya Raditya ngomongin anak baru di kelas mereka yaitu si Mbip. Benar2 nggak habis pikir kok ada cewek selugu dan sekonyol dia. Dibandingkan novel yang kedua, Radikus lebih variatif karena di dalamnya ada foto2 dan ilustrasi yang mendukung jalannya cerita.
Aku cukup salut sama Raditya karena dia punya rasa pede yang tinggi untuk ‘mengeksploitasi’ kehidupan pribadinya. Apalagi dia nggak malu untuk nyeritain hal-hal konyol yang pernah dia alami kepada para pembaca.
Langganan:
Postingan (Atom)




