Agatha Christie dikenal di seluruh dunia sebagai ratu kejahatan. Novel
detektifnya yang berjumlah tujuh puluh enam buah dan buku-buku ceritanya
telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa di dunia.
Dia mulai
menulis sesudah berakhirnya perang dunia pertama. Tokoh pertama
ciptaannya adalah Hercule Poirot, seorang detektif Belgia bertubuh kecil
dengan wajah bulat telur dan menyukai hal-hal yang teratur. Selain itu,
ia juga membuat serial detektif yang mengisahkan kehidupan Miss Marple,
seorang perempuan tua yang menjadi detektif tak resmi. Buku terakhir
karyanya adalah serial Poirot yang berjudul Curtain: Poirot’s Last Case.
Buku tersebut ditulisnya pada tahun 1975, sebelum ia meninggal pada
tahun 1976.
Misteri Karibia ini merupakan salah satu novel detektif
karya Agatha Christie yang mengisahkan kehidupan Miss Marple yang sudah
tua. Walaupun tua, ia dikisahkan memiliki perhatian yang baik terhadap
suatu kejadian. Ia pun memiliki daya pikir yang tajam. Hanya saja,
seperti kebanyakan lansia, ia terkadang juga melupakan sesuatu.
Novel
ini menceritakan pengalaman liburan Miss Marple selama masa penyembuhan
penyakit rematiknya yang sering kambuh karena terlalu banyak kegiatan.
Keponakannya menyarankan untuk berlibur ke sebuah pulau di Karibia,
Trinidad. Di sana, Miss Marple menginap di Hotel Golden Palm, St.
Honore, yang dikelola oleh pasangan Tim dan Molly Kendal serta pelayan
mereka, Victoria Johnson.
Pada suatu hari, Miss Marple mendengarkan
penuturan Mayor Palgrave, penghuni hotel lainnya, mengenai masa lalunya
sebagai tentara. Mayor Palgrave juga menceritakan kisah pembunuhan istri
oleh suami, dan menawarkan kepada Miss Marple untuk melihat foto yang
dicurigainya sebagai pembunuh. Namun sayang, hal itu dibatalkannya
tatkala melihat seseorang yang datang ke arahnya, tepat di belakang Miss
Marple. Miss Marple merasa curiga, membalikkan tubuhnya, namun ia
melihat ada beberapa orang yang berseliweran di sana, dan ia tak bisa
menebak siapa penyebabnya.
Kecurigaan Miss Marple bertambah ketika
keesokan harinya, secara tak terduga Mayor Palgrave ditemukan dalam
keadaan meninggal. Berdasarkan desas-desus, dikabarkan Mayor meninggal
akibat tekanan darah tinggi. Miss Marple mencoba mencari foto pembunuh
yang diceritakan Mayor, namun ia tidak menemukannya. Berdasarkan
keterangan yang diperolehnya dari bertanya sana-sini, ia mengetahui
bahwa Victoria sempat memergoki seseorang pada malam menjelang kematian
Mayor. Namun, sebelum ia sempat berbincang-bincang dengan Victoria,
pelayan hotel tersebut tewas tertusuk pisau. Mayatnya ditemukan Molly,
yang sebetulnya jiwanya sedang goyah, di semak-semak. Kematian pelayan
setianya membuatnya shock setengah mati hingga ia tampak linglung. Yang
membingungkan, koki hotel bersaksi bahwa sebelumnya Molly sempat keluar
hotel dengan membawa pisau.
Miss Marple mencoba mencari keterangan
mengenai Molly dari Tuan Rafiel, jutawan yang setiap tahun berlibur dan
menginap di Hotel Golden Palm. Ia dan Tuan Rafiel sempat beradu
argumentasi, namun pada akhirnya ia menemui jalan buntu kembali.
Miss
Marple kemudian menjenguk Molly, yang oleh dokter dianjurkan untuk
beristirahat. Miss Marple mengajak Molly untuk berbicara, dan Molly
mengungkapkan beberapa hal mengenai dirinya. Molly bercerita, ia sering
bermimpi buruk kala tidur, seperti ada orang yang selalu mengejarnya.
Karena itu, tiap malam ia sering terbangun dan lebih memilih jalan-jalan
daripada tidur. Ia juga bercerita bahwa sering tak sadarkan diri, dan
lupa mengenai apa yang baru saja dilakukannya.
Miss Marple
melanjutkan penyelidikannya. Ia bertanya pada Joan Prescott, penduduk
asli St. Honore, juga kepada Evelyn dan Lucky, ilmuan yang telah berada
di St. Honore selama empat tahun untuk meneliti tumbuhan. Ia mendapatkan
beberapa keterangan baru. Diantaranya mengenai keluarga Kendal, bahwa
keluarga tersebut baru setahun mengambil alih pengelolaan hotel dari
pemilik lama yang sudah tua. Tim dan Molly mencurahkan segala yang
mereka punya untuk mengembangkan bisnis mereka. Namun di balik itu,
sebelum menikah dengan Tim, Molly sempat berhubungan dengan seorang
lelaki berandalan. Informasi tersebut bukannya membuat permasalahan
semakin jelas, malah semakin membingungkan Miss Marple.
Tengah malam,
Miss Marple terbangun dan berjalan-jalan keluar hotel. Ia melihat
kerumunan orang di muara sungai. Rupanya di sana ada seorang wanita yang
diduga bunuh diri. Miss Marple terkejut ketika mengetahui bahwa wanita
tersebut adalah Molly. Beberapa orang pergi untuk memberi tahu polisi.
Miss Marple mengamati mayat Molly lebih teliti. Ia mendapati bahwa mayat
tersebut bukan mayat Molly, melainkan Lucky yang mirip dengan Molly.
Miss
Marple memutar otak, menggabungkan informasi yang telah ia peroleh. Ia
tersadar, Lucky tidak bunuh diri, melainkan terbunuh secara tak sengaja.
Sekarang ia tahu siapa pelaku pembunuhan beruntun yang membayangi
kehidupan St. Honore selama ini. Dan ia juga tersadar bahwa Molly yang
asli sedang berada dalam keadaan bahaya. Ia meminta bantuan Tuan Rafiel,
dan walaupun dengan susah payah, si pembunuh akhirnya tertangkap.
Kisah
yang diuraikan dalam alur maju dengan beberapa kali flashback ini cukup
mengasyikkan untuk dibaca. Di dalamnya, banyak hal-hal tak terduga yang
terjadi, antara lain mengenai karakter tokoh yang sulit ditebak, dan
juga pelaku pembunuhan yang misterius. Setiap babak selalu memunculkan
hal-hal yang baru, sehingga dapat membangun suasana yang berbeda-beda.
Cerita
ini menggunakan bahasa percakapan sehari-hari yang dapat dengan mudah
dimengerti oleh pembaca. Istilah-istilah khusus hanya dipakai sesekali
dalam cerita. Hanya saja, kadang tokoh cerita menyampaikan sesuatu
dengan kalimat yang panjang, seperti pada dialog antara Miss Marple dan
Tuan Rafiel, sehingga membosankan pembaca.
Pembaca juga diajak
berpikir dengan membaca cerita ini. Dimana terjadi pembunuhan pada orang
yang dikenal oleh tokoh utama. Lewat pembicaraan antar tokoh dan
monolog yang disampaikan Miss Marple, pembaca dipaksa secara halus untuk
berpikir dan memecahkan teka-teki siapa pelaku pembunuhan di St.
Honore.
Keseluruhan cerita diuraikan begitu mendetail.
Pembicaraan-pembicaraan antar tokoh diuraikan dengan begitu gamblang,
bahkan basa-basi panjang yang tidak begitu penting pun turut disertakan.
Hal ini tentunya sedikit banyak dapat mempengaruhi jalan cerita karena
dapat membingungkan dan mengganggu konsentrasi pembaca.
Selain itu,
pada permulaan cerita, begitu banyak tokoh yang dimunculkan. Hal ini
menyulitkan pembaca untuk memahami cerita, karena setiap tokoh yang
dimunculkan tidak langsung menunjukkan posisi dan perannya dalam cerita.
Ada tokoh yang sangat menarik perhatian, seperti Mayor Palgrave, namun
jalan ceritanya terputus karena diceritakan meninggal dunia. Ada tokoh
yang jarang tampak, kadang muncul kadang tenggelam, namun memiliki peran
penting seperti Molly Kendal. Namun demikian, hal-hal tersebut juga
membawa manfaat. Cerita menjadi semakin misterius dan sulit untuk
ditebak.
Novel ini amat cocok untuk dibaca oleh orang yang suka
berpikir aktif dan menyenangi hal-hal yang misterius. Sebaliknya, sangat
tidak cocok bagi penggemar cerita-cerita ringan untuk membaca novel
ini. Sebab novel ini banyak menuntut pembaca untuk memutar otak mengenai
peran tokoh cerita di awal kemunculan, maupun di akhir cerita. Selain
itu, tokoh yang cukup banyak menuntut pembaca untuk memiliki ingatan
yang baik. Karena bila tidak, kita harus membolak-balik halaman demi
halaman untuk mencari tahu apa yang telah dikerjakan oleh seorang tokoh
sebelum terjadinya suatu tragedi. Apapun kekurangannya, novel ini mampu
melatih pikiran pembaca untuk menjadi aktif dan kritis, serta serta
teliti dalam menganalisis suatu informasi.