Penulis: Imam mutharom
Harga sewa: Rp 2.100/3hari
Bukan main. Kreativitas Imam Muhtarom bercerita dalam buku ini membuat
saya merasa bodoh seketika. Bagi saya, Rumah yang Tampak Biru Oleh
Cahaya Bulan teramat berat. Sukar mencernanya, sukar meraba makna di
balik kalimat-kalimatnya.
Membaca kumpulan cerpen ini memakan waktu dan terus tersendat karena
saya jengah oleh pemakaian kosakata berbau seksual nan vulgar (bagi
saya tentu) beserta adegan-adegan kekerasan yang sadis. Bukan hanya di
halaman-halaman awal, namun saya masih menemuinya berhamburan sampai
akhir. Saya paham, di beberapa bagian, penulis memotret banyaknya
kekerasan di tanah air. Peristiwa-peristiwa memilukan yang tak kunjung
mendapat penyelesaian, kejadian bernuansa politik, nilai moral yang terus
bergeser secara memprihatinkan. Semoga saya tak keliru menafsirkan.
Tak urung, ada juga kalimat-kalimat puitis seperti di halaman 55,
"...Kami menyaksikan suara-suara titik hujan menerpa genting-genting,
daun-daun pohonan, air mengalir di halaman, begitu jernih di telinga
kami. Pada kami, malam itu seolah bukan berada di luar rumah, di luar
badan kami, melainkan malam hujan itu serasa di dalam tubuh kami."
Cerpen 'Kami Menemukan Diri Kami..' (halaman 128) menghadirkan kalimat
serba panjang yang seringkali melelahkan. Satu paragraf penuh kadang
tak diselingi titik koma. Kumpulan cerpen Imam Muhtarom, yang dikenal
sebagai penyunting, ini membutuhkan energi besar. Salut kepada Binhad Nurrohmad,
editor yang menanganinya. Ringkas saja komentar saya mengenai buku
bersampul biru cantik ini (dua jempol untuk Hagung Sihag). Sastra,
sastra, sastra.
Kami menjual berbagai jenis buku, datangi kami di: Jalan Masjid Al-Islah No.5 RT/RW 09/07, Susukan, Ciracas, Jakarta Timur 13750. Telp: 021-87790502, 083877144885
Tampilkan postingan dengan label Kumpulan Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kumpulan Cerpen. Tampilkan semua postingan
Kamis, 07 Oktober 2010
Parang Tak Berulu
Penulis: Raudal Tanjung Banua
Harga Sewa: Rp 2.400/3hari
Hampir seluruh cerpen dalam kumpulan ini mengambil warna lokal Minangkabau sebagai setting cerita. Di dalam kumpulan ini, Raudal Tanjung Banua berhasil meleburkan gaya tutur sastra lisan ke dalam bentuk teks literatur.
Sebagian tokoh utama cerpen-cerpen Raudal adalah perempuan. Beberapa tokoh perempuan digambarkan mengalami represi oleh tradisi setempat. Yang lainnya digambarkan berusaha lepas dari norma-norma masyarakatnya. Hal ini tampaknya tak lepas dari sistem kekerabatan matrilineal yang dianut oleh masyarakat Minangkabau.
Cerpen 'Parang Tak Berulu' sendiri berkisah tentang nasib seorang perempuan yang tinggal pergi suaminya. Perempuan itu meski membesarkan anak sendirian sehingga diibaratkan seperti sebuah parang yang kehilangan ulunya (pegangannya).
Harga Sewa: Rp 2.400/3hari
Hampir seluruh cerpen dalam kumpulan ini mengambil warna lokal Minangkabau sebagai setting cerita. Di dalam kumpulan ini, Raudal Tanjung Banua berhasil meleburkan gaya tutur sastra lisan ke dalam bentuk teks literatur.
Sebagian tokoh utama cerpen-cerpen Raudal adalah perempuan. Beberapa tokoh perempuan digambarkan mengalami represi oleh tradisi setempat. Yang lainnya digambarkan berusaha lepas dari norma-norma masyarakatnya. Hal ini tampaknya tak lepas dari sistem kekerabatan matrilineal yang dianut oleh masyarakat Minangkabau.
Cerpen 'Parang Tak Berulu' sendiri berkisah tentang nasib seorang perempuan yang tinggal pergi suaminya. Perempuan itu meski membesarkan anak sendirian sehingga diibaratkan seperti sebuah parang yang kehilangan ulunya (pegangannya).
Rabu, 29 September 2010
Larutan Senja
Penulis: Ratih Kumala
Harga Sewa: Rp2.000/2 hari
Dalam alam imajinasi Ratih Kumala, bumi ini terdiri dari berbagai larutan yang ditemukan oleh sekelompok penemu di langit sana. Salah seorang penemu menciptakan larutan gerak agar manusia bisa bergerak, angin bertiup dan laut bergelombang.
Penemu ini juga menemukan larutan yang rasanya tidak manis seperti siang, tidak pahit seperti malam, memiliki warna elegan. Larutan ini ia beri nama Larutan Senja. Tuhan yang mengetahui penemuan ini ingin mengambil larutan itu dan meneteskannya ke bumi agar semakin indah. Si Penemu tidak mau memberikannya karena menganggap Tuhan tidak adil. Selama ini Tuhan selalu menerima pujian atas penemuan-penemuannya. Tuhan bahkan tidak menyebut bahwa penemuan itu adalah hasil kerja kerasnya. Maka Tuhan pun mencuri larutan senja dan meneteskan ke bumi. Si penemu merasa kecolongan dan membuat sebuah larutan untuk membalas kecurangan Tuhan; larutan yang menakutkan bagi umat manusia.
Harga Sewa: Rp2.000/2 hari
Dalam alam imajinasi Ratih Kumala, bumi ini terdiri dari berbagai larutan yang ditemukan oleh sekelompok penemu di langit sana. Salah seorang penemu menciptakan larutan gerak agar manusia bisa bergerak, angin bertiup dan laut bergelombang.
Penemu ini juga menemukan larutan yang rasanya tidak manis seperti siang, tidak pahit seperti malam, memiliki warna elegan. Larutan ini ia beri nama Larutan Senja. Tuhan yang mengetahui penemuan ini ingin mengambil larutan itu dan meneteskannya ke bumi agar semakin indah. Si Penemu tidak mau memberikannya karena menganggap Tuhan tidak adil. Selama ini Tuhan selalu menerima pujian atas penemuan-penemuannya. Tuhan bahkan tidak menyebut bahwa penemuan itu adalah hasil kerja kerasnya. Maka Tuhan pun mencuri larutan senja dan meneteskan ke bumi. Si penemu merasa kecolongan dan membuat sebuah larutan untuk membalas kecurangan Tuhan; larutan yang menakutkan bagi umat manusia.
Filosofi Kopi
Penulis: Dewi Lestari
Harga Sewa: Rp 2.200/3 hari
Pemaknaan kembali kembali kopi, Buddha, Herman, surat tak terkirimkan, cinta sejenis yang manis atau apa pun, membuktikan Dee tetap memesona. Kalau kemarin panitia Nobel sastra masih maju mundur dengan nama Pramoedya, sekarang bisa memaknai kembali, melalui karya-karya ini.
Ruang cerpen yang sempit dijadikannya wahana yang intens namun tidak sesak untuk mengungkapkan apa yang tak selalu mampu dikatakan. Lewat refleksi dan monolog interior yang digarap dengan cakap dan jernih, pembaca diajaknya menjelajahi halaman-halaman kecil dalam cerpen yang kini dijadikannya semesta kehidupan.
Harga Sewa: Rp 2.200/3 hari
Pemaknaan kembali kembali kopi, Buddha, Herman, surat tak terkirimkan, cinta sejenis yang manis atau apa pun, membuktikan Dee tetap memesona. Kalau kemarin panitia Nobel sastra masih maju mundur dengan nama Pramoedya, sekarang bisa memaknai kembali, melalui karya-karya ini.
Ruang cerpen yang sempit dijadikannya wahana yang intens namun tidak sesak untuk mengungkapkan apa yang tak selalu mampu dikatakan. Lewat refleksi dan monolog interior yang digarap dengan cakap dan jernih, pembaca diajaknya menjelajahi halaman-halaman kecil dalam cerpen yang kini dijadikannya semesta kehidupan.
Senin, 27 September 2010
Ada Seseorang di Kepalaku yang Bukan aku
Ada Seseorang di Kepalaku yang Bukan aku
Judul : Ada Seseorang di Kepalaku yang Bukan akudan cerita-cerita lain
Penulis : Akmal Nasery Basral
Penerbit : Ufuk Press
Cetakan : I, Desember 2006
Tabal : 268 hal
Apa yang tercerap sebagai kesan bagi kita setelah membaca seluruh cerpen Akmal ?
Pertanyaan tersebut dilontarkan oleh Kurnia Effendi (cerpenis nominator KLA 2006) sebagai kalimat penutup dari makalah yang berjudul “Membongkar Ihwal di Kepala Akmal” yang disampaikan pada saat pre-launch buku ini di Potluck Book Festifal - Bandung, 2 Des 2006.
Pertanyaan itu menggelitik saya untuk segera menjawabnya setelah membaca habis ke-13 cerpen plus kata Pengantar, Memoria, Galeri Publikasi, Galeri Inspirasi , Galeri Apresiasi hingga endorsment di cover belakang buku ini.
Agar teman-teman tidak jenuh membaca [Ulasan] yang biasa saya buat secara formal, ijinkan saya mengulasnya dengan gaya personal.
Ketika melihat tampilan fisik buku ini, terus terang saya agak kurang suka dengan covernya. Terus terang saya paling cerewet dalam soal cover karena bagi saya cover sebuah buku berpengaruh terhadap minat baca saya. (jangan ditiru ya…).
Yang ‘mengganggu’ saya dalam cover buku ini adalah foto patung ibu dan anak. Padahal backgroundnya berupa foto bangunan tinggi dengan dominasi warna biru sangat indah dilihat. Entah apa yang mendasari ilustrasi cover ini, apakah mengacu pada cerpen yang dijadikan judul buku ini dimana salah satu tokohnya adalah seorang ibu yang membunuh anak-anaknya ? Ah, yang pasti foto patung dalam cover buku ini membuat tampilan buku ini menjadi kaku.
Lalu di cover belakang tersaji deretan 7 bh endorsment ! yang membuat saya berdecak kagum, pengendors buku ini adalah orang-orang hebat di bidangnya, mulai dari sastrawan, rohaniwan, kolumnis, aktor, novelis, penyanyi, dan dosen filsafat!
Menurut hemat saya, tak perlulah endorsment sebanyak itu, kesannya koq jadi seperti Kang Akmal nggak ‘pe de’ dengan karyanya sehingga perlu memajang 7 buah endorsment dari orang-orang terkenal. (Ups! Maaf ini anggapan ‘asal’ saya lho..). Menurut saya cukup 2 atau 3 orang saja sehingga tampak lebih elegan dan biarlah karya ini berjuang sendiri tanpa perlu di’bantu’ oleh komentar sekian banyak pakar.
Dari segi lay-out halaman dalam dan ukuran buku saya rasa sangat baik, ukurannya yang ‘handy’ membuat buku ini enak dibaca dan mudah dibawa-bawa. Yang menarik adalah adanya ilustrasi-ilustrasi grafis di tiap cerpennya. Yang mengejutkan adalah adanya halaman-halaman yang hanya diisi oleh satu kalimat dan halaman kosong yang di blok oleh tinta hitam. Lalu ada lagi yang unik, dalam cerpen Hiu di Secangkir Kopi terdapat coretan tanda lingkaran di kalimat-kalimatnnya seakan cerpen tersebut masih berupa draft.
Nah, sekarang saya akan masuk pada isi cerpen.
Cerpen favorit saya sekaligus yang paling inovatif dari ketiga belas cerpen dalam buku ini menurut saya adalah cerpen “Matinya Pengarang Tersantun di Dunia”. Cerpen ini menceritakan persekongkolan antara tokoh wanita dan pria untuk membunuh pengarang yang menciptakan mereka. Jadi seolah-olah tokoh2 fiktif itu ‘hidup’ untuk membunuh si pengarang.
Cerpen-cerpen lainnya tak kalah menariknya. Menurut saya, cerpen-cerpen dalam buku ini menggambarkan Akmal sebagai wartawan. Umumnya cerpen-cerpennya diangkat dari berbagai fakta, misalnya cerpen “Ada Seseorang di Kepalaku yang Bukan Aku”, akan mengingatkan kita akan kejadian di Bandung dimana seorang ibu membunuh ketiga anaknya. Pada cerpen “Dilarang Bercanda Dengan Kenangan” setting ceritanya berkisar pada saat kunjungan seorang milyuner ke Aceh dan flash back ke masa meninggalnya Lady Di Paris. Peristiwa Bom Bali juga mengilhami Akmal untuk membuat cerpen “Prolog Kematian”. Bahkan kematian pesohor TV Steve Irwin oleh cambukan ekor ikan pari-pun disinggung dalam cerpen "Seekor Hiu di Cangkir Kopi”. Dan fakta yang paling gress adalah peristiwa lumpur panas Lapindo yang menjadi latar cerpen “Lebaran Penghabisan”.
Akmal juga saya lihat menyelipkan kritik-krtitik sosial pada beberapa cerpennya, misalnya pada cerpen “Lebaran Penghabisan” budaya open house yang kerap dilakukan oleh para pejabat saat hari Raya Idul Fitri kini dijadikan alat untuk menjilat atasan : “..karena pada hari itulah manusia saling bersilaturahmi dan saling memaafkan tanpa latar belakang sosial atau jabatan…Namun open house mengubah semuanya, bahkan sampai ke kampung-kampung. Siapa yang bisa menjamin bawahan yang datang ke rumah atasannya pada saat lebaran itu benar-benar murni bersilaturahmi dan bukan soal kondite?”. Lalu pada cerpen “Seekor Hiu di Cangkir Kopi”, disinggung pula realita kematian TKI di luar negeri yang sering luput dari perhatian dan terkesan ‘biasa’ dimata pemerintah kita. Dengan cerdas Akmal membandingkannya dengan Presiden Gloria Arroyo dari Filipina yang mempertaruhkan jabatannya untuk membebaskan seorang supir truk yang disandera kelompok bersenjata. (hal 207).
Selain itu ada juga cerpen yang kocak “Boyon” yang menceritakan seseorang yang diberi nama oleh ayahnya dengan Boyon karena ia lahir setelah ayahnya menonton film James Bond, karena namanya tak jamak maka Boyon sering diolok-olok oleh teman-temannya hingga akhirnya ia beberapa kali mengganti namanya. Namun kelak olok-olokan teman-temannya inilah yang akan mengantarnya pada kesuksesan.
Bagi saya seluruh cerpen dalam buku ini bisa dibilang menarik. Setting ceritanya menyebar mulai dari Aceh, Ambon hingga ke London. Kalimat-kalimatnya enak dibaca, kadang lugas dan sederhana tanpa metafora, namun ada juga yang menggunakan metafora-metafora indah. Semua tersaji dengan pas dan tidak berlebih-lebihan. Pengggalan-penggalan fakta dalam tiap cerpennya membuat kisah-kisahnya terasa dekat karena peristiwa2 yang diangkat sebagai latar cerpen merupakan bagian dari berita sehari-hari yang kerap kita baca dalam media cetak ataupun TV. Apalagi kalau kita lihat proses pembuatan cerpen-cerpennya dibuat di tahun 2006 (hanya satu yang dibuat pada tahun 2005)
Walau hampir semua cerpen-cerpennya pernah dimuat di media cetak, namun menurut Akmal cerpen-cerpen dalam buku ini memiliki perbedaan dengan versi media cetaknya karena terdapat sejumlah penyesuaian, revisi, atau penambahan karakter. Satu langkah yang patut diacungi jempol karena umumnya sebuah buku kumpulan cerpen hanya mencetak cerpen-cerpen sesuai dengan apa yang dimuat di media cetak sehingga lebih tekesan sebuah kliping.
Apakah ada cerpen yang jelek di buku ini….hmm entah karena saya terpesona oleh kemarihan akmal dalam bercerita, entah saya kurang kiritis, saya tak menemukan satu cerpen pun yang saya anggap buruk (ini bukan melebih-lebihkan lho…).
O ya, sedikit hambatan saya temui ketika membaca cerpen “Seekor Hiu di cangkir Kopi”. Coretan-coretan berupa lingkaran dalam kalimat-kalimat dalam cerpen ini sangat mengganggu kelancaran membaca. Entah apa maksud Akmal dan penerbitnya untuk melingkari beberapa kalimat dalam cerpen ini seakan cerpen yang tercetak ini adalah sebuah draft yang masih harus diperbaiki. Hingga kini saya masih penasaran…apa maksudnya ya…?????
Sebagai bonus buku ini juga memuat catatan dari salah seorang dewa sasta Prof.Dr. Budi Darma. Bagi saya masukan-masukan beliau benar-benar membuat saya manggut-manggut serasa dikuliahi secara langsung oleh beliau.
Akhir kata inilah kesan yang saya tangkap setelah membaca buku ini. Satu hal lagi karena profesi Akmal sebagai jurnalis, kadang ketika selesai membaca sebuah cerpen saya sering menduga-duga jangan-jangan ini peristiwa nyata!!!!
Mungkin itulah resiko membaca karya fiksi seorang jurnalis/wartawan, kita dibuat bingung mana fakta mana fiksi…..
Demikian kesan yang saya tangkap, saya harus menggakhirinya karena ada seseorang di kepalaku yang bukan aku yang menyuruhku untuk mengakhiri ulasan ini.
@h_tanzil
Seno Kembali Dengan KUMCERNYA
Kadang “realita” seperti “tak masuk akal.” contohnya orang yang menurut kita sudah jelas-jelas bersalah, kok divonis bebas. Sebaliknya, yang sering kita rasa di tempat kerja, kita yang merasa kerja baik, jujur, kok disalahkan. Sementara orang lain yang kerjanya bual-membual terus, kok yang dipromosi. Tidak masuk akal.
Tapi percayalah, semua yang “tak masuk akal” juga yang fiksi, ternyata “masuk akal” juga. Buktinya bisa membuat kita sewot, jengkel. Kalau semua itu cuma lewat kuping kiri keluar kuping kanan, masuk mata kiri keluar lagi lewat hidung, baru namanya “tak masuk di akal.”
Sebel kan?!. Itulah pengalaman saya setiap membaca cerita pendek (cerpen) nya Seno Gumira Ajidarma (SGA).
Dalam NLP (neuro linguistik program) dikatakan, pikiran bawah sadar kita tak menghiraukan kata “tidak” atau negasi. Kalau kita mengatakan, “jangan sedih”, “tidak sakit”. Maka yang ditangkap otak bawah sadar hanya kata “sakit, sedih”nya.
Silahkan dibuktikan dengan ungkapan SGA,”…, aku mencintai seorang perempuan yang tidak pernak ada. Jika dia memang ada, tentunya ia sedang berdiri disana, di pulau tanpa nama itu, dalam remang senja tanpa langit yang kemerah-merahan tanpa mega bersepuh cahaya keemas-emasan tanpa segala sesuatu yang seperti biasanya…” (Cerpen: Senja di Pulau Tanpa Nama). Pikiran kita tetap membayangkan adanya perempuan dan senja keemasan, walau SGA menegaskan “tidak, tanpa.”
Itulah sedikit cuplikan dari buku kumpulan cerpen SGA “Linguae” yang berisi 14 cerpen, yang ditulis dalam kurun 2000-2007, terbitan Gramedia Pustaka Utama, 2007.
Pemujaannya pada laut, pantai dan senja dalam kumpulan cerpen Linguae ini terungkap pada judul-judul cerpen: Cintaku Jauh di Komodo, Perahu Nelayan Melintas Cakrawala, dan Senja di Kaca Spion.
“Jangan berpikir, kataku dulu, juga jangan berpikir tentang pikiran ikan-ikan. Pikiran kita sendirilah yang menghancurkan dunia nyata. Tatap saja cakrawala itu.” Ini contoh ungkapan pada cerpen Perahu Nelayan Melintas Cakrawala, dilanjutkan dengan, “Nelayan itu hanya sendirian saja di atas perahunya. Bagaikan sendirian di tengah dunia. Ini seperti gambar sebuah katu pos, yang memberi perasaan terasing seorang musafir di tengah perjalanannya….” di bagian lain, “Bagaimana rasanya hidup dalam kartu pos? Waktu membeku dan di luarnya waktu tetap berjalan. Siapakah yanh hidup di dalam kartu pos? Akukah, atau kamu?”
Pada cerpen Senja di Kaca Spion tertulis,”Senja semburat dengan dahsyat di kaca spion. Sangat menyedihkan betapa di jalan tol aku harus melaju secepat kilat ke arah yang berlawanan. Di kaca spion, tengah, kanan, maupun kiri, tiga senja dengan seketika memberikan pemandangan langit yang semburat jingga,…”
Masih soal kaca, pada cerpen Cermin Maneka terungkap,”Di depan cermin Maneka tertegun. Ia tidak melihat dirinya….. Dia juga tidak melihat kamarnya…. Di dalam cermin itu ia melihat hutan…. Wah, cerminnya tidak berkaca. Cermin tempatnya berhias yang bulat tinggal sebuah bingkai menuju ke dunia lain….”
Kesan surealis juga jelas pada cerpen Rembulan dalam Cappuccino seperti,”Cappuccino dalam cangkir itu seperti lautan berwarna cokelat, dan rembulan itu datang langsung dari langit, tercemplung ke dalam cangkir, tenggelam sebentar, tapi lantas terapung-apung seperti bola pingpong – tapi ini bukan bola pingpong, ini rembulan.”
Biasanya setiap membaca koran ada saja berita yang membuat gemas, jengkel, marah, karena banyak yang “tidak masuk akal.” Tetapi setelah menyelami cerpen-cerpen SGA ini rasanya kok berita atau realita itu tak beda dengan fiksi. Tak perlu jengkel lagi, sudah plong (atau gila).
Latihan olah pikiran dengan membaca cerpen-cerpen SGA ini rasanya kok penting. Apalagi sebentar lagi pemilu, iklan politik dimana-mana. Kata ahli, “citra” yang tercipta dari iklan itulah yang menentukan keterpilihan calon. Jadi bukan realita dan perbuatan nyata dari si calon?!. Kata teman yang konsultan kampanye, bukan si calon yang mampu mengumpulkan ribuan massa di lapangan, tapi penyanyi dangdutnya. Realita dan fiksi? Ah, sama sama “masuk di akal.”
Langganan:
Postingan (Atom)



