Kami menjual berbagai jenis buku, datangi kami di: Jalan Masjid Al-Islah No.5 RT/RW 09/07, Susukan, Ciracas, Jakarta Timur 13750. Telp: 021-87790502, 083877144885
Tampilkan postingan dengan label Memoar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Memoar. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 22 Oktober 2011
Jumat, 08 Oktober 2010
Lelaki Ynag Menangis
Penulis: Rini Nurul Badariyah
Harga Sewa: Rp 1.200/2hari
Selama ini media massa kita lebih banyak menyorot KDRT yang dilakukan oleh kaum laki-laki terhadap perempuan. Sehingga pikiran masyarakat seperti terparadigma bahwa laki-laki adalah kaum yang bejat, tidak berperasaan, egois, dan cap-cap negatif lainnya. Harus diakui memang, laki-laki secara fisik lebih kuat. Egonya juga cenderung tinggi dibandingkan perempuan. Namun, anggapan itu tidak sepenuhnya benar. Sebab, buku ini menunjukkan hal yang sebaliknya.
Perempuan juga ternyata bisa juga melakukan KDRT. Di dalam buku ini termuat 10 kisah nyata para lelaki yang menjadi korban kekerasan rumah tangga yang dilakukan oleh kaum wanita. Kekerasan tidak hanya bersifat fisik, namun juga mental. Salah satunya adalah melalui teror kata-kata seperti yang terdapat pada kisah ”Mengapa Kau Sakiti Kami?”
Anggapan si perempuan bahwa fisiknya bisa sekuat laki-laki, masa kecil si laki-laki yang penuh kekerasan, perbedaan tingkat finansial, perceraian, dan banyak hal lainnya adalah beragam faktor yang melandasi masing-masing cerita di dalam buku ini.
Kisah ”Wanita itu Adalah Istri Ayahku” mengingatkan saya pada sinetron yang tokoh wanitanya berasal dari kalangan priyayi, bertampang judes, dan menganggap orang lain butuh dia. ”Benarkah Ia Ibuku?” menjentik ingatan saya pada cerita seorang kenalan yang sejak mahasiswa hingga lulus sekarang, menjadi guru privat. Suatu kali ibu sang anak pernah mengomelinya gara-gara salah satu nilai sang anak jeblok. Sang anak sendiri tertekan karena standar prestasi yang terlalu tinggi yang dituntut oleh sang ibu.
Kesepuluh cerita yang terkompilasi dalam buku ini, rata-rata saya suka dan bisa ’menerima’ logika kisahnya. Bahkan, kerapkali rasa haru menyergap saya begitu membaca sebuah kisah. Meskipun, saran saya, tidak enak kalo melahap buku ini dalam sekali baca. Kenapa? Sebab, nuansa kekerasan yang bertubi-tubi ada dalam setiap cerita, bisa menanamkan ’doktrin’ di kepala kita: jadi perempuan kok jahat banget ya?
Saya sendiri, tiap satu kisah mesti saya coba merefleksikannya dengan apa yang pernah saya lihat, saya dengar, dan yang pernah saya alami. Oh kisah ini kok mirip dengan yang dialami temanku ya? Oh, kisah yang pernah juga kok aku alami.
Meskipun saya terkadang mengernyitkan dahi dan menganggap sebuah kisah agak didramatisasi. Tapi, sub-judul, pengantar, sekaligus penutup dari penulis bisa meyakinkan saya bahwa kesepuluh kisah dalam buku ini memang benar-benar kisah nyata. Bukankah, terkadang kehidupan nyata terkadang lebih bombastis ketimbang cerita fiksi?
Kutipan-kutipan dari internet yang mengawali setiap kisah, bagi saya, tidak begitu menganggu. Sebab, buku non-fiksi seperti ini harus pula mengikuti kaidah penulisan yang ilmiah, sebagaimana yang selalu ditekankan oleh asisten dosen saya tiap kali kami, mahasiswa, membuat jurnal atau artikel.
Oya, penilaian untuk sampul depan sendiri, saya acungi dua jempol. Mewakili banget!
Harga Sewa: Rp 1.200/2hari
Selama ini media massa kita lebih banyak menyorot KDRT yang dilakukan oleh kaum laki-laki terhadap perempuan. Sehingga pikiran masyarakat seperti terparadigma bahwa laki-laki adalah kaum yang bejat, tidak berperasaan, egois, dan cap-cap negatif lainnya. Harus diakui memang, laki-laki secara fisik lebih kuat. Egonya juga cenderung tinggi dibandingkan perempuan. Namun, anggapan itu tidak sepenuhnya benar. Sebab, buku ini menunjukkan hal yang sebaliknya.
Perempuan juga ternyata bisa juga melakukan KDRT. Di dalam buku ini termuat 10 kisah nyata para lelaki yang menjadi korban kekerasan rumah tangga yang dilakukan oleh kaum wanita. Kekerasan tidak hanya bersifat fisik, namun juga mental. Salah satunya adalah melalui teror kata-kata seperti yang terdapat pada kisah ”Mengapa Kau Sakiti Kami?”
Anggapan si perempuan bahwa fisiknya bisa sekuat laki-laki, masa kecil si laki-laki yang penuh kekerasan, perbedaan tingkat finansial, perceraian, dan banyak hal lainnya adalah beragam faktor yang melandasi masing-masing cerita di dalam buku ini.
Kisah ”Wanita itu Adalah Istri Ayahku” mengingatkan saya pada sinetron yang tokoh wanitanya berasal dari kalangan priyayi, bertampang judes, dan menganggap orang lain butuh dia. ”Benarkah Ia Ibuku?” menjentik ingatan saya pada cerita seorang kenalan yang sejak mahasiswa hingga lulus sekarang, menjadi guru privat. Suatu kali ibu sang anak pernah mengomelinya gara-gara salah satu nilai sang anak jeblok. Sang anak sendiri tertekan karena standar prestasi yang terlalu tinggi yang dituntut oleh sang ibu.
Kesepuluh cerita yang terkompilasi dalam buku ini, rata-rata saya suka dan bisa ’menerima’ logika kisahnya. Bahkan, kerapkali rasa haru menyergap saya begitu membaca sebuah kisah. Meskipun, saran saya, tidak enak kalo melahap buku ini dalam sekali baca. Kenapa? Sebab, nuansa kekerasan yang bertubi-tubi ada dalam setiap cerita, bisa menanamkan ’doktrin’ di kepala kita: jadi perempuan kok jahat banget ya?
Saya sendiri, tiap satu kisah mesti saya coba merefleksikannya dengan apa yang pernah saya lihat, saya dengar, dan yang pernah saya alami. Oh kisah ini kok mirip dengan yang dialami temanku ya? Oh, kisah yang pernah juga kok aku alami.
Meskipun saya terkadang mengernyitkan dahi dan menganggap sebuah kisah agak didramatisasi. Tapi, sub-judul, pengantar, sekaligus penutup dari penulis bisa meyakinkan saya bahwa kesepuluh kisah dalam buku ini memang benar-benar kisah nyata. Bukankah, terkadang kehidupan nyata terkadang lebih bombastis ketimbang cerita fiksi?
Kutipan-kutipan dari internet yang mengawali setiap kisah, bagi saya, tidak begitu menganggu. Sebab, buku non-fiksi seperti ini harus pula mengikuti kaidah penulisan yang ilmiah, sebagaimana yang selalu ditekankan oleh asisten dosen saya tiap kali kami, mahasiswa, membuat jurnal atau artikel.
Oya, penilaian untuk sampul depan sendiri, saya acungi dua jempol. Mewakili banget!
A Man Named Dave
Penulis: Dave Pelzer
Harga Sewa: Rp
Buku ini bercerita bahwa Selama bertahun-tahun itu kau berusaha sebisamu untuk menghancurkan aku, tapi aku masih tegak di sini. Akan kau lihat sendiri nanti, bahwa aku bakal menjadi orang berhasil. " Kata-kata tadi adalah pernyataan tekad untuk melepaskan diri dari ibunya, yang diucapkan oleh Dave Pelzer. Dan kata-kata itu sekaligus merupakan puncak dari sikap mengandalkan diri. Ayah Dave tak pernah mencegah tindakan si ibu yang menyiksa Dave dengan sangat brutal, yang berlangsung di depan matanya.
Lebih dari dua juta pembaca buku-buku Pelzer sebelumnya, yang menjadi best-seller di seluruh penjuru dunia, A Child Called "it" dan Lost Boy, menyadari bahwa ia ditakdirkan bertahan hidup untuk menceritakan kisahnya yang memaparkan keberanian itu. Tapi, bahkan setelah diselamatkan, hidupnya terus dihantui oleh kenangan masa lalunya yang membuatnya jadi orang yang "terluka", kenangan akan dirinya sebagai "It" yang gemetaran dan dikurung di basement rumah ibunya sendiri.
Dalam usahanya yang mati-matian untuk menghasilkan sesuatu dalam hidupnya. Dave berketetapan hati untuk menggilas segala kekurangannya untuk kemudian menghimpun kekuatan dan keluar dari kesengsaraan.
Dengan kebesaran hati yang sungguh mengesankan, Dave Pelzer mengajak para pembaca untuk mengikuti perjalanan hidupnya sampai ia mampu membuktikan betapa seorang anak yang hilang, yang tak memiliki nama, akhirnya menemukan dirinya sendiri di dalam hati dan jiwa seorang dewasa yang akhirnya mampu membebaskan diri.
Harga Sewa: Rp
Buku ini bercerita bahwa Selama bertahun-tahun itu kau berusaha sebisamu untuk menghancurkan aku, tapi aku masih tegak di sini. Akan kau lihat sendiri nanti, bahwa aku bakal menjadi orang berhasil. " Kata-kata tadi adalah pernyataan tekad untuk melepaskan diri dari ibunya, yang diucapkan oleh Dave Pelzer. Dan kata-kata itu sekaligus merupakan puncak dari sikap mengandalkan diri. Ayah Dave tak pernah mencegah tindakan si ibu yang menyiksa Dave dengan sangat brutal, yang berlangsung di depan matanya.
Lebih dari dua juta pembaca buku-buku Pelzer sebelumnya, yang menjadi best-seller di seluruh penjuru dunia, A Child Called "it" dan Lost Boy, menyadari bahwa ia ditakdirkan bertahan hidup untuk menceritakan kisahnya yang memaparkan keberanian itu. Tapi, bahkan setelah diselamatkan, hidupnya terus dihantui oleh kenangan masa lalunya yang membuatnya jadi orang yang "terluka", kenangan akan dirinya sebagai "It" yang gemetaran dan dikurung di basement rumah ibunya sendiri.
Dalam usahanya yang mati-matian untuk menghasilkan sesuatu dalam hidupnya. Dave berketetapan hati untuk menggilas segala kekurangannya untuk kemudian menghimpun kekuatan dan keluar dari kesengsaraan.
Dengan kebesaran hati yang sungguh mengesankan, Dave Pelzer mengajak para pembaca untuk mengikuti perjalanan hidupnya sampai ia mampu membuktikan betapa seorang anak yang hilang, yang tak memiliki nama, akhirnya menemukan dirinya sendiri di dalam hati dan jiwa seorang dewasa yang akhirnya mampu membebaskan diri.
Kamis, 07 Oktober 2010
The Other Side of Me
Penulis: Sydney Sheldom
Harga Sewa: Rp 5.300/6hari

Manik depresi atau yang lebih dikenal dengan sindrom bipolar adalah suatu penyimpangan otak yang menyebabkan suasana hati seseorang berubah-ubah dari euforia menjadi perasaan putus asa. Dua juta warga Amerika—satu dari sepuluh keluarga—mengidap bipolar. Untuk sebab yang tak bisa dimengerti, gangguan psikologi ini lebih banyak menyerang para seniman. Vincent Van Gogh, Herman Melville, Edgar Allan Poe, Virginia Woolf, adalah beberapa penderita yang cukup tertekan menghadapi peristiwa-peristiwa mania dalam hidup mereka hingga memutuskan mengakhiri semuanya dengan bunuh diri.
Sidney Sheldon yang juga terjerembab dalam dunia sastra, oleh psikolognya diagnosis sebagai penderita bipolar. Yang membedakannya dengan para seniman yang menderita penyakit sama, Sidney masih bertahan hingga ultahnya ke-88 dan menuturkan kisah hidupnya. Dalam memoarnya —Sisi Lain Diriku—penulis naskah, sutradara, dan novelis ini mengungkap semua penderitaan yang dihadapinya semasa kecil dan selalu membayangi langkah-langkahnya menuju puncak tertinggi dunia.
Sidney terlahir sebagai Sidney Schechtel di Chicago menjelang era depresi berat di Amerika, sekitar tahun 1930an. Besar dalam keluarga miskin di era krisis ekonomi tampaknya membuat sisi lain dirinya tidak bahagia. Mendengar pertengkaran-pertengkaran orang tuanya, berpindah-pindah tempat tinggal dan sekolah serta hidup serba kekurangan membuatnya harus menghapus mimpi-mimpinya semasa kecil, menjadi penulis dan sutradara. Bahkan, dia harus rela meninggalkan kuliah sastra yang selalu diidamkannya untuk menjadi pekerja rendahan di tiga perusahaan demi menopang hidup keluarganya.
Dua puluh tahun pertama hidup Sidney adalah masa-masa yang cukup berat dan menimbulkan gelombang depresi dalam dirinya memuncak. Ada saat-saat ketika segala sesuatu sangat menekan dan membuatnya putus asa. “Dunia suram. Aku telah sampai pada puncak keputus-asaanku. Aku merasa tersingkir dan tersesat. Aku merana dan setengah mati merindukan sesuatu yang tak kuketahui dan tak bisa kusebut.” (hal. 11)Di waktu lain saat dia seharusnya merasa bahagia, riak pesimisme menggelayuti hati dan membuatnya terpuruk kembali. Sebagai seorang yang juga dikaruniai setitik bakat sebagai penggubah lagu, Sidney pernah hampir dikontrak Max Rich, seorang manajer musik. Namun kekalutan hati yang tidak berdasar, membuatnya ragu akan keberuntungannya dan membuyarkan angan-angannya sebagai pencipta lagu. “Pada pukul sepuluh pagi, ketika Max Rich sedang menunggu untuk berkolaborasi denganku di kantornya di Gedung Brill, aku sudah berada di bus Greyhound, kembali menuju Chicago.” (hal. 92)ik
Harga Sewa: Rp 5.300/6hari
Manik depresi atau yang lebih dikenal dengan sindrom bipolar adalah suatu penyimpangan otak yang menyebabkan suasana hati seseorang berubah-ubah dari euforia menjadi perasaan putus asa. Dua juta warga Amerika—satu dari sepuluh keluarga—mengidap bipolar. Untuk sebab yang tak bisa dimengerti, gangguan psikologi ini lebih banyak menyerang para seniman. Vincent Van Gogh, Herman Melville, Edgar Allan Poe, Virginia Woolf, adalah beberapa penderita yang cukup tertekan menghadapi peristiwa-peristiwa mania dalam hidup mereka hingga memutuskan mengakhiri semuanya dengan bunuh diri.
Sidney Sheldon yang juga terjerembab dalam dunia sastra, oleh psikolognya diagnosis sebagai penderita bipolar. Yang membedakannya dengan para seniman yang menderita penyakit sama, Sidney masih bertahan hingga ultahnya ke-88 dan menuturkan kisah hidupnya. Dalam memoarnya —Sisi Lain Diriku—penulis naskah, sutradara, dan novelis ini mengungkap semua penderitaan yang dihadapinya semasa kecil dan selalu membayangi langkah-langkahnya menuju puncak tertinggi dunia.
Sidney terlahir sebagai Sidney Schechtel di Chicago menjelang era depresi berat di Amerika, sekitar tahun 1930an. Besar dalam keluarga miskin di era krisis ekonomi tampaknya membuat sisi lain dirinya tidak bahagia. Mendengar pertengkaran-pertengkaran orang tuanya, berpindah-pindah tempat tinggal dan sekolah serta hidup serba kekurangan membuatnya harus menghapus mimpi-mimpinya semasa kecil, menjadi penulis dan sutradara. Bahkan, dia harus rela meninggalkan kuliah sastra yang selalu diidamkannya untuk menjadi pekerja rendahan di tiga perusahaan demi menopang hidup keluarganya.
Dua puluh tahun pertama hidup Sidney adalah masa-masa yang cukup berat dan menimbulkan gelombang depresi dalam dirinya memuncak. Ada saat-saat ketika segala sesuatu sangat menekan dan membuatnya putus asa. “Dunia suram. Aku telah sampai pada puncak keputus-asaanku. Aku merasa tersingkir dan tersesat. Aku merana dan setengah mati merindukan sesuatu yang tak kuketahui dan tak bisa kusebut.” (hal. 11)Di waktu lain saat dia seharusnya merasa bahagia, riak pesimisme menggelayuti hati dan membuatnya terpuruk kembali. Sebagai seorang yang juga dikaruniai setitik bakat sebagai penggubah lagu, Sidney pernah hampir dikontrak Max Rich, seorang manajer musik. Namun kekalutan hati yang tidak berdasar, membuatnya ragu akan keberuntungannya dan membuyarkan angan-angannya sebagai pencipta lagu. “Pada pukul sepuluh pagi, ketika Max Rich sedang menunggu untuk berkolaborasi denganku di kantornya di Gedung Brill, aku sudah berada di bus Greyhound, kembali menuju Chicago.” (hal. 92)ik
Footnotes
Penulis: Lena Maria Klingwall
Harga Sewa: Rp 2.900/3hari
MEMBACA buku Footnotes, Hidup Tanpa Batas karya Lena Maria Klingvall, begitu mengentak kesadaran. Ketidaksempurnaan fisiknya seakan telah menampar kita semua yang dianugerahi kesempurnaan untuk bangun, bangkit, dan berkarya. Meski terlahir dengan satu kaki, tanpa tangan dan kaki kiri yang cacat, perempuan kelahiran Stockholm, Swedia, mampu menerabas segala rintangan yang dianggap tak mungkin dilakukan.
Sejak dilahirkan ke dunia, Lena telah disambut dengan kesedihan dan cucuran air mata kedua orangtua serta keluarganya. Kehadiran seorang bayi yang seharusnya disertai kebahagiaan berubah menjadi duka, karena Lena terlahir dengan fisik tidak sempurna. Dengan berat 2,4 kilogram, Lena terlahir tanpa lengan dan kaki kiri yang tak sempurna, hanya kaki kanannya yang normal.
Ayahnya yang berdinas sebagai tentara dan ibunya begitu syok dan dirundung kesedihan melihat kondisi anak pertama mereka. Kesedihan mereka bertambah karena dokter yang menanggani tak yakin kalau anak mereka bisa bertahan hidup. Rumah sakit pun menyarankan agar kedua orangtua Lena menyerahkan perawatan anaknya kepada mereka.
Setelah tiga hari kelahiran, Lena menunjukkan keceriaan layaknya bayi normal dan menyusu dengan kuat. Hal itu membuat ayahnya memutuskan merawat dan membesarkan Lena sendiri. “Cacat atau normal, seorang bayi tetap membutuhkan tempat tinggal yang nyaman,” ujarnya.
Harga Sewa: Rp 2.900/3hari
MEMBACA buku Footnotes, Hidup Tanpa Batas karya Lena Maria Klingvall, begitu mengentak kesadaran. Ketidaksempurnaan fisiknya seakan telah menampar kita semua yang dianugerahi kesempurnaan untuk bangun, bangkit, dan berkarya. Meski terlahir dengan satu kaki, tanpa tangan dan kaki kiri yang cacat, perempuan kelahiran Stockholm, Swedia, mampu menerabas segala rintangan yang dianggap tak mungkin dilakukan.
Sejak dilahirkan ke dunia, Lena telah disambut dengan kesedihan dan cucuran air mata kedua orangtua serta keluarganya. Kehadiran seorang bayi yang seharusnya disertai kebahagiaan berubah menjadi duka, karena Lena terlahir dengan fisik tidak sempurna. Dengan berat 2,4 kilogram, Lena terlahir tanpa lengan dan kaki kiri yang tak sempurna, hanya kaki kanannya yang normal.
Ayahnya yang berdinas sebagai tentara dan ibunya begitu syok dan dirundung kesedihan melihat kondisi anak pertama mereka. Kesedihan mereka bertambah karena dokter yang menanggani tak yakin kalau anak mereka bisa bertahan hidup. Rumah sakit pun menyarankan agar kedua orangtua Lena menyerahkan perawatan anaknya kepada mereka.
Setelah tiga hari kelahiran, Lena menunjukkan keceriaan layaknya bayi normal dan menyusu dengan kuat. Hal itu membuat ayahnya memutuskan merawat dan membesarkan Lena sendiri. “Cacat atau normal, seorang bayi tetap membutuhkan tempat tinggal yang nyaman,” ujarnya.
Tuesday With Morrie
Penulis: Mitch Albom
Harga Sewa: Rp 2.500/3hari
Saat mengetahui bahwa Morrie, mantan profesor yang dikaguminya di Harvard, menderita penyakit yang merusak kerja sistem sarafnya, Mitch datang untuk menemuinya. Walaupun semula hanya bermaksud menepati janji untuk tetap saling mengabari, ternyata Mitch menemukan bahwa semangat dan cara pandang Morrie yang hidupnya tak lama lagi justru lebih berani dibanding orang lain.
Sejak itu dimulailah "kuliah" pribadi mereka yang berlangsung setiap hari Selasa. Guru dan murid ini membahas beberapa hal mendasar yang sering menjadi pertanyaan setiap manusia sebagai individu, misalnya tentang keluarga, makna hidup, ketakutan, perkawinan, hingga kematian.
Dimensi: 13,5 x 20 cm
Tebal: 209 halaman
Cover: Soft Cover
ISBN: 979-22-2046-1
Kategori: Nonfiksi / Pengembangan Diri dan Inspirasional / Spiritualitas
Harga Sewa: Rp 2.500/3hari
Saat mengetahui bahwa Morrie, mantan profesor yang dikaguminya di Harvard, menderita penyakit yang merusak kerja sistem sarafnya, Mitch datang untuk menemuinya. Walaupun semula hanya bermaksud menepati janji untuk tetap saling mengabari, ternyata Mitch menemukan bahwa semangat dan cara pandang Morrie yang hidupnya tak lama lagi justru lebih berani dibanding orang lain.
Sejak itu dimulailah "kuliah" pribadi mereka yang berlangsung setiap hari Selasa. Guru dan murid ini membahas beberapa hal mendasar yang sering menjadi pertanyaan setiap manusia sebagai individu, misalnya tentang keluarga, makna hidup, ketakutan, perkawinan, hingga kematian.
Dimensi: 13,5 x 20 cm
Tebal: 209 halaman
Cover: Soft Cover
ISBN: 979-22-2046-1
Kategori: Nonfiksi / Pengembangan Diri dan Inspirasional / Spiritualitas
Senin, 04 Oktober 2010
Catatan Seorang Demonstran
Penulis: Soe Hok Gie
Harga Sewa: Rp 5.000/minggu
Soe Hok Gie, nama ini sebelumnya masih terdengar aneh dikalangan mahasiswa umumnya dan baru mendengarnya setelah filmnya muncul di bioskop-bioskop tanah air lewat besutan mira lesemana dan riri reze, tapi mungkin bagi sebagian mahasiswa yang lain tokoh “Gie” sudah dikenal dan menjadi salah seorang sosok inspirator. Soe Hok Gie adalah seorang aktivis muda angkatan 66 yang selalu aktif dan berani mengomentari berbagai hal dan peristiwa, cinta, filsafat dan politik. Selain itu Gie adalah seorang pecinta alam dan beberapa catatannya berisi tentang pengalaman dan keindahan tempat-tempat yang dikunjunginya.
Soe Hok Gie meninggal dalam usia yang masih muda saat berumur 27 bulan desember 1969 terkena gas beracun di ketinggian puncak gunung semeru.
sesuai dengan kutipan filusuf yunani yang disukainya : “Nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, Yang kedua dilahirkan tapi mati muda dan yang tersial adalah umur tua. Bahagialah mereka yang mati muda”
Buku Catatan Seorang Demonstran telah diluncurkan kembali oleh LP3ES yang pertama kali nya terbit tahun 1983 buku ini telah meraih sukses dipasaran dan mengalami beberapa cetak ulang hingga 1993.
Harga Sewa: Rp 5.000/minggu
Soe Hok Gie, nama ini sebelumnya masih terdengar aneh dikalangan mahasiswa umumnya dan baru mendengarnya setelah filmnya muncul di bioskop-bioskop tanah air lewat besutan mira lesemana dan riri reze, tapi mungkin bagi sebagian mahasiswa yang lain tokoh “Gie” sudah dikenal dan menjadi salah seorang sosok inspirator. Soe Hok Gie adalah seorang aktivis muda angkatan 66 yang selalu aktif dan berani mengomentari berbagai hal dan peristiwa, cinta, filsafat dan politik. Selain itu Gie adalah seorang pecinta alam dan beberapa catatannya berisi tentang pengalaman dan keindahan tempat-tempat yang dikunjunginya.
Soe Hok Gie meninggal dalam usia yang masih muda saat berumur 27 bulan desember 1969 terkena gas beracun di ketinggian puncak gunung semeru.
sesuai dengan kutipan filusuf yunani yang disukainya : “Nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, Yang kedua dilahirkan tapi mati muda dan yang tersial adalah umur tua. Bahagialah mereka yang mati muda”
Buku Catatan Seorang Demonstran telah diluncurkan kembali oleh LP3ES yang pertama kali nya terbit tahun 1983 buku ini telah meraih sukses dipasaran dan mengalami beberapa cetak ulang hingga 1993.
Langganan:
Postingan (Atom)



.jpg)

