Kamis, 07 Oktober 2010

Rumah yang Tampak Biru Oleh Cahaya Bulan

Penulis: Imam mutharom
Harga sewa: Rp 2.100/3hari




Bukan main. Kreativitas Imam Muhtarom bercerita dalam buku ini membuat
saya merasa bodoh seketika. Bagi saya, Rumah yang Tampak Biru Oleh
Cahaya Bulan teramat berat. Sukar mencernanya, sukar meraba makna di
balik kalimat-kalimatnya.
Membaca kumpulan cerpen ini memakan waktu dan terus tersendat karena
saya jengah oleh pemakaian kosakata berbau seksual nan vulgar (bagi
saya tentu) beserta adegan-adegan kekerasan yang sadis. Bukan hanya di
halaman-halaman awal, namun saya masih menemuinya berhamburan sampai
akhir. Saya paham, di beberapa bagian, penulis memotret banyaknya
kekerasan di tanah air. Peristiwa-peristiwa memilukan yang tak kunjung
mendapat penyelesaian, kejadian bernuansa politik, nilai moral yang terus
bergeser secara memprihatinkan. Semoga saya tak keliru menafsirkan.
Tak urung, ada juga kalimat-kalimat puitis seperti di halaman 55,
"...Kami menyaksikan suara-suara titik hujan menerpa genting-genting,
daun-daun pohonan, air mengalir di halaman, begitu jernih di telinga
kami. Pada kami, malam itu seolah bukan berada di luar rumah, di luar
badan kami, melainkan malam hujan itu serasa di dalam tubuh kami."
Cerpen 'Kami Menemukan Diri Kami..' (halaman 128) menghadirkan kalimat
serba panjang yang seringkali melelahkan. Satu paragraf penuh kadang
tak diselingi titik koma. Kumpulan cerpen Imam Muhtarom, yang dikenal
sebagai penyunting, ini membutuhkan energi besar. Salut kepada Binhad Nurrohmad,
editor yang menanganinya. Ringkas saja komentar saya mengenai buku
bersampul biru cantik ini (dua jempol untuk Hagung Sihag). Sastra,
sastra, sastra.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar