Kamis, 07 Oktober 2010

The Other Side of Me

Penulis: Sydney Sheldom
Harga Sewa: Rp 5.300/6hari



Manik depresi atau yang lebih dikenal dengan sindrom bipolar adalah suatu penyimpangan otak yang menyebabkan suasana hati seseorang berubah-ubah dari euforia menjadi perasaan putus asa. Dua juta warga Amerika—satu dari sepuluh keluarga—mengidap bipolar. Untuk sebab yang tak bisa dimengerti, gangguan psikologi ini lebih banyak menyerang para seniman. Vincent Van Gogh, Herman Melville, Edgar Allan Poe, Virginia Woolf, adalah beberapa penderita yang cukup tertekan menghadapi peristiwa-peristiwa mania dalam hidup mereka hingga memutuskan mengakhiri semuanya dengan bunuh diri.
Sidney Sheldon yang juga terjerembab dalam dunia sastra, oleh psikolognya diagnosis sebagai penderita bipolar. Yang membedakannya dengan para seniman yang menderita penyakit sama, Sidney masih bertahan hingga ultahnya ke-88 dan menuturkan kisah hidupnya. Dalam memoarnya —Sisi Lain Diriku—penulis naskah, sutradara, dan novelis ini mengungkap semua penderitaan yang dihadapinya semasa kecil dan selalu membayangi langkah-langkahnya menuju puncak tertinggi dunia.
Sidney terlahir sebagai Sidney Schechtel di Chicago menjelang era depresi berat di Amerika, sekitar tahun 1930an. Besar dalam keluarga miskin di era krisis ekonomi tampaknya membuat sisi lain dirinya tidak bahagia. Mendengar pertengkaran-pertengkaran orang tuanya, berpindah-pindah tempat tinggal dan sekolah serta hidup serba kekurangan membuatnya harus menghapus mimpi-mimpinya semasa kecil, menjadi penulis dan sutradara. Bahkan, dia harus rela meninggalkan kuliah sastra yang selalu diidamkannya untuk menjadi pekerja rendahan di tiga perusahaan demi menopang hidup keluarganya.
Dua puluh tahun pertama hidup Sidney adalah masa-masa yang cukup berat dan menimbulkan gelombang depresi dalam dirinya memuncak. Ada saat-saat ketika segala sesuatu sangat menekan dan membuatnya putus asa. “Dunia suram. Aku telah sampai pada puncak keputus-asaanku. Aku merasa tersingkir dan tersesat. Aku merana dan setengah mati merindukan sesuatu yang tak kuketahui dan tak bisa kusebut.” (hal. 11)
Di waktu lain saat dia seharusnya merasa bahagia, riak pesimisme menggelayuti hati dan membuatnya terpuruk kembali. Sebagai seorang yang juga dikaruniai setitik bakat sebagai penggubah lagu, Sidney pernah hampir dikontrak Max Rich, seorang manajer musik. Namun kekalutan hati yang tidak berdasar, membuatnya ragu akan keberuntungannya dan membuyarkan angan-angannya sebagai pencipta lagu. “Pada pukul sepuluh pagi, ketika Max Rich sedang menunggu untuk berkolaborasi denganku di kantornya di Gedung Brill, aku sudah berada di bus Greyhound, kembali menuju Chicago.” (hal. 92)ik 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar