Selasa, 28 September 2010

Buki Manusia


Roman Tetralogi Buru diawali dengan penuturan Minke yang mengambil peran utama, tentang kehidupannya di akhir abad 19. Minke, seorang priyayi Jawa yang berhasil menjadi siswa HBS, mencoba melepasan diri dari kejawaannya, dengan memandang Eropa sebagai acuan budaya dan ilmu pengetahuan. Hidup dengan diskriminasi yang sangat terhadap statusnya yang pribumi di antara orang-orang Indo maupun Totok (Eropa asli), Minke yang mengagungkan semboyan revolusi Perancis, mencoba menyuarakan pendapatnya melalui media tulis. Menggunakan nama pena Max Tollenaar, terinspirasi dari sang panutan Edward Douwes Dekker, Minke berhasil merebut perhatian para pejabat, kalangan terpelajar baik Totok maupun Indo. “Sayang, hanya pribumi…” adalah kalimat yang selalu dihadapinya saat berbicara dengan orang-orang yang berpandangan sempit, dan selalu dapat ditangkisnya pula dengan menunjukkan kemampuan dan kecerdasannya yang melebihi mereka.
Minke yang berjiwa Eropa, merasa menemukan ‘guru’nya saat bertemu Nyai Ontosoroh, wanita luar biasa, yang meskipun pribumi namun pribadi dan kecerdasannya melebihi wanita Eropa. Di sisi lain, Minke semakin ingin bebas dari segala aturan dalam keluarga Jawa-nya, emoh mengorbankan kebebasannya sebagai manusia yang memiliki harga diri dan hak untuk bebas berkembang. Kisah percintaannya dengan Annelies Mellema, Indo yang merasa pribumi tulen, putri Nyai Ontosoroh, membawanya menghadapi masalah pelik bertubi-tubi, menjajal kemampuan bertahannya menghadapi diskriminasi dan ketidakadilan yang diterimanya sebagai pribumi. Dalam roman ini, Minke, seorang priyayi, pribumi, belajar, dari Eropa yang menjadi kiblatnya, dari kehebatan seorang nyai, dari kebijaksanaan dan kerendah hatian Jean Marais –sahabat Perancisnya-, dari pergaulannya dengan orang Indo dan Totok, baik yang sejalan maupun memusuhinya.
Tokoh Minke digambarkan sebagai pemuda yang benar-benar berjiwa muda, masih berapi-api dan selalu ingin mencari kebebasan, menyuarakan apa yang menurutnya benar, menurutnya patut dipertahankan dan tidak bisa ditawar-tawar lagi. Di satu sisi memang inilah karakter Minke yang kuat, seorang pribumi terpelajar yang lebih daripada Eropa. Namun dapat dilihat juga Minke sebagai orang yang egosentris, di mana dia hanya melihat kepentingannya, mengangkat apa yang jadi masalah dan tuntutannya saja, dan tidak melihat apa yang terjadi pada rakyat di sekitarnya, bangsanya sendiri. Di sinilah menariknya perkembangan pribadi Minke, yang dilanjutkan pada roman kedua, Anak Semua Bangsa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar