Selasa, 28 September 2010

Janda dari Jirah



Judul buku: Janda dari Jirah
Penulis: Cok Sawitri
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I – Juni 2007
Tebal: 187 hlm
Pada satu masa di tahun Saka, setiap empu dan penyair menanam pena mereka untuk tidak menuliskan sebuah cerita. Sebuah kisah tentang seorang perempuan yang disegani di jagat Jawa dan Bali, bahkan oleh yang mulia Airlangga.Tanpa kekuatan senjata, tanpa pasukan, perempuan itu telah berhasil menobatkan seorang raja yang membuat Kadiri terbagi dua. Kekuasaan telah tercoreng, pereang saudara pun tak terhindarkan. Para penyair dan empu tak tahu mesti menempatkan di mana nama perempuan itu dalam sejarah. Kelak, orang akan mengenangnya jauh dari kebenaran. Kelak, namanya akan terdengar menggetarkan setiap kali disebutkan. Ia adalah ibu Ratna Manggali, Rangda ing Jirah ... dan hanya dalam kitab kecil ini, apa yang tidak boleh dituliskan yang terkubur beratus-ratus tahun lampau, kembali dikisahkan. 
Mengambil setting sekitar tahun 940-an Saka, cerita dibuka dengan kisah penyerangan Kerajaan Medang pada saat upacara pernikahan Putri Raja Dharmawangsa Tguh dan Pangeran Airlangga, yang merupakan putra Raja Udayana dari Bali. Para penyerang yang berasal dari Kerajaan Wura Wuri masih merupakan kerabat Wangsa Isana, penguasa kerajaan Medang. Mereka tidak setuju dengan pernikahan tersebut yang akan membawa Airlangga ke tahkta kerajaan Medang. Selang sehari setelah penyerangan yang menewaskan Raja Dharmawangsa Teguh dan sang Putri Mahkota, Airlangga didampingi Narotama, pengawalnya yang setia, memimpin pasukannya merebut kembali ibu kota Medang. kemudian mengganti nama kerajaannya menjadi Kadiri dengan ibukotanya Daha.
Walaupun kemenangan telah diperoleh, Airlangga masih merasa risau karena kekuasaannya masih tidak diakui oleh kerabat kerajaan dari Wangsa Isana. Bagi mereka, Airlangga yang merupakan menantu almarhum raja Dharmawangsa tidak berhak atas tahkta kerajaan. Tetapi sebagai keponakan sekaligus menantu Raja Dharmawangsa, Airlangga merasa berhak karena ibunya adalah adik sang Raja dan keturunan wangsa Isyana. Apalagi setelah cucu sang Raja, Pangeran Samarawijaya, yang masih kecil telah hilang entah kemana ketika terjadi pralaya Medang. Akhirnya Airlangga dinobatkan sebagai Raja Kadiri dengan gelar Rake Halu Dharmawangsa Airlangga.
Daerah kekuasaan Airlangga berbatasan dengan Kabikuan Jirah yang terletak di daerah Gandamayu, sebelah Barat kerajaan Kadiri. Daerah Kabikuan adalah tempat tinggal para penganut Budha. Tanah-tanahnya merupakan persembahan raja-raja kepada para pendeta., sebuah tradisi yang sudah berlangsung sangat lama tanpa diketahui kapan mulainya. Dalam tata krama Kabikuan yang merupakan perjanjian suci antara Raja dan Pendeta Budha, tanah-tanah di wilayah Kabikuan tidak boleh dilewati oleh Raja dan para pengikutnya jika untuk tujuan berperang dan membunuh, sekalipun dengan alasan membela Negara. Kabikuan Jirah dipimpin seorang janda yang dikenal dengan sebutanRangda ing Jirah (Janda dari Jirah) dan putrinya yang cantik bernama Ratna Manggali.
Rangda ing Jirah digambarkan sebagai seorang penganut Budha yang taat, berwibawa, bijaksana dan berilmu tinggi. Dia disegani oleh rakyat jelata sampai raja-raja. Tidak ada seorang raja pun yang berani mengusik tanah-tanah yang masuk wilayah Kabikuan Jirah. Para murid Kabikuan Jirah dikenal karena ketaatannya pada ajaran agama Budha, sikap yang terpuji dan ilmu kanuragan yang tinggi. Kehidupan di Kabikuan Jirah digambarkan lebih teratur dan makmur dibandingkan daerah lain di sekitarnya. Tata krama kabikuan melarang penduduknya berpihak kemanapun apabila terjadi perselisihan dan melarang daerahnya dilewati oleh prajurit yang akan berperang. Airlangga berusaha untuk menghormati taka krama Kabikuan dan mengutus Narotama untuk menjalin persahabatan dengan Kabikuan Jirah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar