Selasa, 28 September 2010

Larasati


Penulis Pramodya Ananta Toer
Harga sewa: Rp 2.800/3 Hari

Roman Larasati (Lentera Dipantara, 2005) maunya dimaksudkan untuk memotret gelora revolusi kaum muda pasca kemerdekaan vs kaum tua yang korup. Karakter korup, jahat, atau licik dari kaum tua tak tergambar lewat tampilan karakter tokohnya, tapi hanya muncul secara verbal dari mulut Larasati yang mengolok-olok kaum tua.  

Roman dibuka dengan perjalanan Larasati dari Jogja ke Jakarta dengan naik kereta. Tokoh Larasati digambarkan sebagai primadona bintang film yang sedang naik daun. Tujuan ke Jakarta bukan untuk semakin melambungkan namanya dengan menjadi bintang film terkenal, tapi justru bersimpati pada perjuangan pemuda di seberang kali Bekasi. Meskipun di Jakarta, ia berjumpa dengan Mardjohan yang ambisius ingin mengajak Larasati jadi mitra di dunia perfileman. Menjadikannya bintang film terkenal. Ajakan itu ditolaknya, karena Larasatri tak sudi dijadikan alat propaganda NICA. Di Jakarta, Larasati bertemu dengan ibunya yang sudah lama tak ditemuinya. Di sana, ibunya menjadi pembantu di rumah orang Arab. Di rumah orang itu pulalah Larasati mau dijadikan istri tak resmi dari pemuda Arab, yang jelas-jelas menjadi mata-mata Belanda.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar