Kami menjual berbagai jenis buku, datangi kami di: Jalan Masjid Al-Islah No.5 RT/RW 09/07, Susukan, Ciracas, Jakarta Timur 13750. Telp: 021-87790502, 083877144885
Senin, 27 September 2010
Norwegian Wood
Pertama kali membaca novel ini, saya merasa hanyut dalam perenungan tentang kehidupan dan pencarian akan makna kehidupan. Novel ini meninggalkan kesan yang amat mendalam bagi saya. Sungguh sebuah novel yang mampu memperkaya batin pembacanya dengan pengalaman tokoh-tokohnya yang mengalami kehampaan hidup. Namun, kehampaan hidup yang ditemui tokoh-tokohnya tidak digambarkan dengan sayu dan sentimental, melainkan dengan dingin tetapi mengharukan, dan menyentuh kita yang membacanya. Lagu "Norwegian Wood" karya kelompok musik terkenal The Beatles yang dijadikan judul novel ini menjiwai kisah hidup para tokoh novel ini. Di halaman pembuka novel dikisahkan seorang lelaki bernama Toru Watanabe, yang terkenang pada Naoko, cinta pertamanya ketika mendengar bait-bait "Norwegian Wood" yang didengarnya dalam sebuah perjalanan dengan pesawat udara. Toru lalu merasa terlempar jauh ke masa ia kuliah di Tokyo pada akhir 1960-an saat ia berumur 20 tahun, hanyut dalam gejolak anak muda yang penuh dengan seks bebas, pencarian identitas, dan kegilaan, hingga saat seorang gadis energik dan impulsif bernama Midori masuk dalam kehidupannya, sehingga ia harus memilih antara masa depan dan masa silam. Naoko adalah masa lalu yang selalu membayangi Toru, sedangkan Midori adalah masa depan yang tak menentu karena sesungguhnya ia tak pernah mampu membebaskan diri dari kenangan masa lalu. Di antara cintanya pada Naoko yang tak kesampaian dan kematian Naoko yang di ujung hidupnya menderita sakit jiwa, Toru terperangkap dalam hidup yang hampa. Petualangan seks dan hidup bebas yang dijalaninya, serta hubungannya yang ganjil dengan Midori juga tidak membawanya pada kebahagiaan. Namun, berbeda dengan Naoko yang memilih kematian dengan bunuh diri, Toru menjalani hidupnya yang tak bahagia dengan jejak-jejak kepedihan yang terus membayangi ingatannya. Berbeda dengan novel-novel Jepang yang memiliki kesan tradisional yang kental, novel ini menampilkan Jepang yang lebih modern dan kebarat-baratan. Gambaran perempuan Jepang berkimono atau penari tradisional, jangan harap akan muncul dalam novel ini. Sebaliknya, justru digambarkan perempuan-perempuan Jepang masa kini yang memakai jins, rok mini, berambut punk, dan melakukan seks bebas dengan enteng. Tokoh Toru yang penyendiri, acuh dan misterius, juga digambarkan suka nongkrong sambil minum bir di bar dan kafe sambil sesekali main biliar, menyukai musik pop, serta senang membaca novel-novel Barat. Norwegian Wood dalam terbitan bahasa Indonesia diterjemahkan dengan baik sehingga para pembaca bisa menangkap humor segar, satir yang menarik, serta segala detail gejolak masa muda yang diracik dengan manis oleh penulisnya. Desain sampul yang menarik juga menjadi nilai lebih buku ini.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar