Penulis : J.M. Coetzee
Harga Sewa: Rp 4.000/5hari
Posisi seksualitas dalam sastra menjadi topik penting pembicaraan para
penikmat dan kritikus sastra Indonesia beberapa waktu yang lalu.
Sebagian mengiyakan, sebagian menggugat, dan sebagian lainnya memilih
sikap tak menggungat namun mencari alternatif bacaan lain. Wacana ini
muncul setelah kehadiran beberapa pendatang muda yang tangguh dengan
energi meluap sambil membawa karya-karya bermuatan seksualitas.
Perdebatan ini tak kunjung tersimpulkan. Masing-masing pihak
melontarkan argumen yang tak kunjung saling meyakinkan. Tanpa
sedikitpun maksud memperpanjang perdebatan itu, saya yakin, Penerbit
Jalasutra Jogjakarta menerbitkan novel Aib karya JM Coetzee, peraih
Nobel kesusastraan tahun 2003 asal Afrika Selatan.
Apa pasal saya mengisyaratkan adanya hubungan antara perdebatan posisi
seksualitas dengan penerbitan Aib?
Berlatar Afrika Selatan akhir milenium kedua, novel yang berjudul asli
Disgrace ini berkisah tentang Prof Lurie, dosen sastra, yang sejak
awal hingga akhir buku tak kunjung selesai dirundung sial. Di awal
cerita, dibeberkan bahwa sebagai seorang womanizer yang selalu haus
akan kepuasan seksual, Prof Lurie sedemikian rupa berusaha memuaskan
hasratnya dengan "berlangganan" seorang pelacur, Soraya. Malangnya,
Soraya menjauh begitu ada gelagat Prof Lurie ingin hubungan yang lebih
mendalam. Kemudian, Prof Lurie menjalin hubungan dengan seorang
mahasiswanya, Melanie, yang menyebabkannya mendapatkan kesialannya
yang kedua: dituduh melakukan pelecehan dan pemerkosaan terhadap
Melanie.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar