Kamis, 14 Oktober 2010

Dunia Yang Berlari

Istilah "Dunia yang Berlari: Mencari 'Tuhan-Tuhan' Digital" tentu hanya metafora. Dengan metafora itu hendak dijelaskan bahwa telah terjadi perubahan atau transformasi yang sangat cepat, memerangkap manusia dalam kegilaannya dan ekstasinya, yang mengurung manusia dalam kepanikannya sehingga tidak menyisakan lagi ruang untuk mendekati Tuhan dan tak ada waktu lagi untuk mengingat nama-Nya. Manusia mencari "tuhan-tuhan"-nya sendiri dibimbing tiga "dewa": kapitalisme, postmodernisme, dan cyberspace.


Yasraf Amir Piliang (YAP), seorang staf pengajar perguruan tinggi di Bandung produktif menulis buku tentang budaya dan filsafat Dunia Yang Berlari: Mencari Tuhan-Tuhan Digital. Salah satu bukunya dengan judul di atas sedang saya baca. Judulnya memang cukup sensasional untuk sebuah buku non-fiksi, namun jika direnungkan semua terjadi dalam kehidupan sekarang ini. Konsep ketuhanan semakin terkikis seiring majunya teknologi, 'kehadiran' Tuhan sebagai wujud spirit dan religi manusia semakin berubah yang secara historis mengikuti tiga fase. Fase pertama yang disebut teosofi di mana 'penampakan' Tuhan hadir hampir di seluruh aktivitas manusia, membatasi gerak-gerik manusia. Fase yang kedua dikenal sebagai teknosofi di mana 'kehadiran'-Nya ditandingi oleh kemajuan teknologi. Fase ketiga disebut libidosofi, ketika dunia dikuasai oleh citra, gagasan dan obyek yang merupakan refleksi hasrat manusia.

Selama setengah abad dunia dikuasai oleh teknosofi, dalam keilmuan menghadirkan ilmuwan-ilmuwan moderen beserta penemuannya, dalam teknologi meningkatnya kapitalisme dan perang dunia, serta spesifik yang saya pelajari di sekolah adalah berkembangnya Arsitektur Moderen hingga tahun 1960-an yang menguasai perkembangan dunia. Transisi kemudian terjadi dengan munculnya budaya pop-art, postmodernisme, dekonstruksi dan dunia digital. Menjelang akhir milenium dunia baru hadir, dunia global, dunia informasi, kita kenal sebagai cyberspace.

Gegap gempita dunia cyberspace membuat gegar dan panik, tak luput pula kesenjangan terjadi, terutama di negeri yang tak mampu mengadaptasi perubahan yang cepat. Dunia baru tanpa tanpa tatanan yang matang ini telah memanjakan hasrat masyarakat, sekaligus menciptakan manusia baru yang aktif menyalurkan hasratnya melalui dan membuat teknologi di cyberspace.

Cyberspace telah dianggap sebagai ruang publik yang bebas, sebagai alternatif dari ruang publik alun-alun, balaikota atau gedung parlemen. Namun sisi buruk yang muncul adalah ketika manusia salah mengartikan kata bebas menjadi vandalisme dan berlindung di balik anonimitas, yang memang tatanan hukum cyberspace jauh dari sempurna.

Apa yang saya tulis hanyalah sebagian kecil dari yang disodorkan oleh Yasraf Amir Piliang, masih banyak wawasan lain yang berkaitan dengan dunia jaman sekarang dalam bidang ekonomi, pasar, kapitalisme, budaya, spiritual, teknologi dan lain-lain. Semuanya dalam satu wacana cyberspace dalam konteks ketuhanan, karena kita adalah manusia spiritual dan manusia religius.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar